Artikel

Tertanam Dalam Komunitas Sel

Minggu, 06 Desember 2015

Simon Agung

Renungan

Dibaca: 1961 kali




Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku. Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya kamu jangan lagi menjadi budak mereka. Aku telah mematahkan kayu kuk yang di atasmu dan membuat kamu berjalan tegak.  Imamat 26:12-13

 

Ada 3 hal penting yang Allah katakan dalam ayat yang kedua belas :

1. Dia akan hadir di tengah-tengah kita (Israel rohani).

2. Dia akan menjadi Allah kita.

3. Kita akan menjadi umatNya.

Tiga hal ini sangat menggetarkan hati saya ketika pengertian dan makna dari kata-kata itu meresap dalam roh saya. Ada perasaan haru tak terkatakan karena saya dapat merasakan betapa hatiNya yang begitu mengasihi dan rindu dekat dengan kita sehingga Ia “bersedia” hadir di tengah-tengah umatNya. Siapakah umatNya? Israel! Siapakah Israel? Bukan hanya Israel secara jasmaniah saja tetapi yang terutama sekarang adalah Israel rohani, yakni setiap orang percaya yang telah ditebus dengan darah AnakNya yang mahal. Suatu umat yang sebenarnya lebih sering menimbulkan dukacita di dalam hatiNya. Namun toh Ia tetap merindukan dan bersedia hadir di tengah-tengahnya. Bagaimanakah perasaan kita menanggapi hatiNya?

                Allah adalah Allah yang maha hadir. Tidak dapat dibatasi oleh tempat dan waktu. Dia selalu ada dan selalu ada tanpa ada permulaannya.  Tetapi dalam ayat yang telah kita baca tadi, Dia hadir, Dia ada, Dia menyatakan isi hatiNya secara spesifik, yaitu “Aku akan hadir ditengah-tengahmu”. Di tengah-tengah komunitas suatu bangsa. Juga ditengah-tengah komunitas yang lebih kecil, komunitas sel.

                Sesungguhnya, inilah tujuan terbesar dari penebusan yang telah dikerjakanNya dengan membawa Israel keluar dari tanah Mesir. Membebaskan mereka dari perbudakan dan kuk bangsa Mesir. Suatu gambaran tentang bagaimana kita juga telah ditebus dan dibawa keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib. Dia menebus kita melalui Kristus AnakNya supaya Dia dapat hadir di tengah-tengah kita umat tebusanNya.

                Sebenarnya inilah perkara penting yang seringkali tersembunyi dari “mata” kita. Kita sering hanya berpikir bahwa kita ditebus dan diselamatkan supaya suatu hari kelak kita dapat tinggal selama-lamanya di surga. Dia rindu hadir dan tinggal di tengah-tengah umatNya, bukan hanya di surga nanti melainkan juga di bumi ini. Berkali-kali hasrat hatiNya yang terdalam ini diutarakan kepada umatNya bahwa Ia rindu tinggal di tengah-tengah umatNya. Simaklah ayat-ayat di berikut ini : 1 Raja-raja 6:13 ; 2 Korintus 6:16 ; Wahyu 21:3

                Untuk apakah Ia tinggal di tengah-tengah kita? Dia rindu menjadi Allah kita! Lho, bukankah Dia memang Allah? Lalu mengapa Dia rindu menjadi Allah kita? Benar, Dia adalah Allah. Allah yang benar, satu-satunya Allah yang kita kenal di dalam Kristus Yesus Tuhan kita. Tetapi pernyataan bahwa “Aku akan menjadi Allahmu” adalah suatu kerinduan dari hatiNya agar kita benar-benar menjadikan Dia sebagai Allah kita. Dia benar-benar Allah, tetapi apakah kita benar-benar menjadikan diriNya sebagai Allah bagi diri kita?

 

                Ah..berapa banyak  orang percaya mau memikirkan hal yang sedemikian ini di tengah-tengah pergumulan hidup yang sulit dan semakin sulit ini? Seringkali Allah hanya dimengerti dan dipercayai sebagai Allah ketika kita sedang membutuhkan sesuatu atau membutuhkan pertolonganNya. Di luar itu kita kerap lupa bahwa Dia sesungguhnya adalah Allah.

                Lalu bagaimanakah caranya agar kita menjadikan Dia sebagai Allah kita? Berdasarkan ayat yang telah kita baca tadi, maka kita perlu “menjadi umatNya”. Ya, menjadi umatNya, bukan sekedar menjadi umat manusia. Sebab di dunia ini ada milyaran jumlah manusia, tetapi tidak semua umat manusia itu adalah umatNya. Hanya yang telah ditebus dan yang menjadikan Dia Allahnya sajalah menjadi umatNya. Jadi, kita yang telah ditebusnya adalah umatNya jika kita sungguh-sungguh bersedia menjadi umatNya. Menjadikan Dia Allah kita. Berpikir, bersikap dan berperilaku seperti yang dikehendakNya.

                “Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umatKu”, adalah suatu pernyataan tentang betapa kerinduanNya ada dalam hubungan yang sangat dekat dan intim. Hubungan timbal balik. Bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan,  tetapi saling mencinta dan mengasihi. Ya, saling mengasihi, karena Dia yang terlebih dahulu mengasihi kita sehingga kitapun dimungkinkan dan dimampukan untuk bisa mengasihiNya.

                Karena itu bisa dikatakan, Dia menebus kita agar Dia dapat tinggal di tengah-tengah kita, artinya, kita menjadi rumahNya, karena Dia ingin terus me-nyatakan kasihNya, bahkan mau menyatakan diriNya kepada dunia melalui kita.

Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.  Efesus 2:22 

                Bagaimanakah seharusnya respon kita terhadap kerinduanNya itu? Perhatikanlah apa yang rasul Petrus katakan :

Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan per-sembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.  1 Pet.2:5 

 

                Kita adalah batu-batu hidup, karena telah dihidupkan bersama-sama dengan Kristus. Apakah tujuanNya Dia menjadikan kita batu-batu hidup? Satu saja yang penting, untuk dipakai sebagai bagian dari pembangunan suatu rumah rohani. Sekali lagi, jelas sekali tujuan Allah menebus kita, yakni, menjadikan kita sebagai rumah rohani. Apakah artinya rumah rohani? Itulah rumahnya Allah, rumah tempat kediaman Allah di dalam Roh. Rumah di mana Allah rindu mengekspresikan keAllahan-Nya di dalam Kristus kepada dunia ini.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ada dua hal penting yang harus kita lakukan, yakni :

1. Tertanam dalam gereja lokal

2. Tertanam dalam komunitas sel atau gereja dasar.

                Tertanam di dalam gereja lokal berarti menyatakan diri terikat dengan sebuah jemaat yang bersama-sama mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan, FirmanNya adalah otoritas tertinggi serta mempraktikkan kasih di dalam kehidupan berjemaat.

Nah, pengakuan terhadap tiga hal tersebut hanya dapat dilakukan secara nyata di dalam kehidupan orang percaya jika dia tertanam dalam komunitas yang lebih kecil, komunitas sel.         

 

                Komunitas sel inilah tempat di mana praktik “saling” bisa dilaksanakan. Saling mengasihi, saling tolong menolong, saling mendorong dalam pekerjaan baik, saling mengampuni, dsb. Dengan tertanam dalam komunitas sel maka kita sesungguhnya sedang menyediakan rumah rohani, tempat tinggal Allah di tengah-tengah kita.  Dia menjadi pusat kehidupan komunitas orang percaya. Dan jika kita menjadikan Dia pusat dalam kehidupan kita berkomunitas maka Dia sendiri akan “menyatakan diriNya” melalui kita. Kita dimampukan oleh RohNya sendiri untuk mempraktikkan “saling” seperti yang dikehendakiNya.

                Bagaimanakah dunia akan tahu bahwa kita adalah murid-muridNya? Apakah melalui mukjizat-mukjizatNya? Mungkin bisa saja begitu, tetapi Yesus tidak pernah menyatakan secara spesifik hal tersebut. Dia justru mengatakan bahwa kita akan dikenal sebagai murid-muridNya jika kita saling mengasihi seperti Kristus telah mengasihi kita.

“Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."  Yoh.13:35

                Model gereja yang hanya datang hari Minggu lalu pulang dan tidak ada hubungan lagi dengan saudara seiman disertai praktik “saling” bukanlah model gereja yang Tuhan inginkan. Dia ingin kita tertanam dalam sebuah komunitas yang anggotanya secara sadar memberi dirinya untuk dipakai sebagai batu-batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani.

                Jadi, kesimpulannya, berilah diri Saudara menjadi batu hidup untuk pembanguan suatu rumah rohani, rumahNya Allah, tempat Allah hadir, tempat Allah tinggal, tempat Allah mau menyatakan siapa diriNya melalui Kristus dan rumahNya, yaitu kita. Caranya? Tertanamlah dalam komunitas sel.

                Jangan puas hanya dengan pergi ibadah hari Minggu, tanpa praktik “saling” dengan orang percaya lainnya. Sebab Yesus sendiri tinggal dalam komunitas surgawi dengan Bapa dan Roh Kudus. Dan ketika di dunia Ia tinggal berkomunitas bersama murid-muridNya. (SiKY, Okt.2015)

Artikel Terkait



Kembali ke atas

0 Komentar :

Komentar Saudara...


Nama :
Email :
Website :
Komentar :
 
 (Masukkan 6 kode diatas)


 



Pokok Doa

- Terjadinya pertobatan dari bangsa kita dimulai dari Gereja-Nya.

- Agar Jemaat dikuatkan untuk mengambil kesempatan memberitakan nama Yesus dengan cara apapun yang Tuhan berikan di tengah keadaan yang sukar ini.

- Keselamatan dan perlindungan Tuhan atas orang-orang percaya

- Pemerintah Pusat dan Daerah, Dokter dan para medis yang sedang berjuang menangani pasien akibat Virus Corona

semua agenda

Agenda

Info

  • PERTEMUAN KOMSEL kembali aktif di minggu pertama Januari 2020 (tgl 5 - 11 Jan). Komsel-komsel bisa mengadakan kebersamaan dan evaluasi pribadi dalam pertemuan perdana ini

  • Telah lahir putri kedua dari keluarga Bp Johani dan Ibu Roma yang di beri nama Rhea Ivana pada hari Senin, 12 Maret 2018 di RS Resti Mulya.

  • Doa korporat 24 Jam jemaat diadakan dalam 1 bulan sekali di akhir bulan pada hari jumat. Diharapkan seluruh jemaat mengambil bagian waktu doa 1 jam dengan mengisi form jadwal doa yang diberikan.

  • Bagi Fastor Komsel,  form laporan pertemuan komsel dapat memintanya kepada Bpk. Jerimia Saputra dan setelah di isi mohon memberikan laporannya kembali.

  • Telah berpulang ke rumah Bapa di Surga Jemaat Tuhan Bpk M Rumapea dan Bpk MR Manik.

Polling

Apakah Saudara/i sudah belajar memulai membangun ibadah bersama di dalam keluarga?
Sudah
Belum

Lihat

Kontak Kami

GPdI Jemaat Ujung Menteng
Jalan Kelurahan Ujung Menteng no.18 RT015/RW001, Cakung,
Jakarta timur. Indonesia.

Telp/Fax : (021) 4611850

E-mail :
admin@gpdiujungmenteng.com

Statistik Pengunjung

000000


Pengunjung hari ini :
Total pengunjung : 613719
Hits hari ini :
Total Hits :
Pengunjung Online: