Artikel

Berbahagialah Orang Yang (Merasa Banyak) Dosa

Minggu, 18 Oktober 2015

Simon Agung

Renungan

Dibaca: 2127 kali

Melalui artikel ini saya mencoba menjelaskan :

1. Mengapa ada orang yang menyia-nyiakan anugerah Allah.

2. Mengapa mereka yang telah menerima anugerah Tuhan hanya sedikit saja berbuat kasih atau sedikit saja menghasilkan buah.

3. Mengapa ada orang yang beroleh anugerah lalu bertindak sedemikian rupa sesuai dengan anugerah yang telah diterimanya dan berbuah lebat.

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;  Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." ~ Markus 2:17 ~

                Pertama-tama, jangan sampai kita salah mengartikan perkataan Tuhan Yesus di atas, seolah-olah ada dua kategori orang di dunia ini, yakni orang benar dan orang berdosa. Alkitab menegaskan semua orang telah berbuat dosa dan tidak ada seorang pun yang benar. Sesungguhnya perkataan Tuhan Yesus tersebut mengungkapkan sebuah ironi, yakni sekalipun manusia pada dasarnya mengetahui bahwa dirinya adalah orang berdosa, tetapi banyak di antara mereka merasa diri benar.  Tak jarang bahkan, merasa lebih benar dari pada orang lainnya.

                Bagi orang yang sedemikian jelas sekali bahwa Yesus tidak datang untuk mereka. Ya, ini sebuah ironi, sebab maksud kedatangan Tuhan Yesus yang pertama kali justru adalah untuk menyelamatkan orang yang berdosa, tetapi jika seseorang menganggap diri sendiri benar atau lebih benar dari orang lainnya, maka kedatangan Tuhan tidak berarti apa-apa buat mereka. Sungguh, Yesus “tidak berguna”, “tidak bernilai” bagi mereka yang merasa dirinya benar dan tidak memerlukan penebusanNya.

 

                Mari kita bandingkan dengan pernyataan Paulus mengenai maksud kedatangan Tuhan Yesus dan sangkut pautnya dengan dirinya.

Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.  ~ 1 Timotius 1:15-16 ~

                Perhatikan bagian kalimat “dan di antara mereka akulah yang paling berdosa”. Saya mau bertanya, apakah kalimat ini sebuah pernyataan yang obyektif atau subyektif? Apakah benar di antara orang berdosa Paulus adalah orang yang “paling” berdosa? Lebih besar mana dosa Paulus dengan Yudas atau orang-orang Yahudi yang berteriak “salibkan Dia, salibkan Dia”,  ketika Yesus tengah diadili di hadapan Kayafas maupun Pilatus? Oya, lebih besar mana dosa Paulus dibanding dengan Petrus yang menyangkal Yesus sampai tiga kali?

 

                Saya merasa, pernyataan Paulus yang menyebut dirinya sebagai orang yang “paling berdosa” adalah sebuah pernyataan yang bersifat subyektif. Sebuah pernyataan yang diakibatkan oleh kebaikan Tuhan Yesus yang tidak membalas tindakanya memenjarakan dan membunuh murid-muridNya dengan “membunuh” Paulus. Sebaliknya, justru menyelamatkan bahkan memanggil Paulus menjadi rasulNya. Sebuah kejadian yang sangat dramatis dan mencengangkan, karena Yesus telah menunjukkan kasihNya kepada orang yang memusuhi dan membunuh para pengikutNya. Tetapi apakah Paulus telah melakukan sesuatu yang jauh melebihi dosa dari dosa orang berdosa lainnya?

                Saya percaya tidak! Ini adalah suatu pernyataan untuk menunjukkan “betapa luar biasanya anugerah Tuhan Yesus terhadap dirinya”. Sehingga menimbulkan suatu kesan yang sangat mendalam dalam diri seorang Paulus, bahwa betapa berdosanya dirinya. Betapa hitam legam kegelapan hidupnya dulu. Betapa merah melebihi merahnya kirmizi dosanya. Bukan karena secara fakta ia lebih berdosa dari semua orang di dunia ini, melainkkan karena anugerah Tuhan yang dirasakannya membuatnya “merasa menjadi orang yang paling berdosa”, di antara semua orang berdosa. Ini sebuah ungkapan betapa tidak layaknya dia menerima kebaikan Tuhan yang tak terkira tersebut.

                Pertanyaan selanjutnya, apakah kesadaran seperti ini ada dalam setiap orang yang telah menerima anugerah keselamatan dari Tuhan? Sayangnya, tidak! Inilah yang kemudian membedakan sehingga ada orang yang “merasa sedikit saja berbuat dosa” sehingga merasa “sedikit saja diampuni”,  dan akhirnya hanya menghasilkan “sedikit juga perbuatan kasih”.

 

                Simaklah cuplikan kisah tentang Yesus yang diurapi oleh perempuan berdosa di rumah Simon, seorang Farisi. Mohon dibaca dengan seksama.

7:40 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru." 7:41 "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.

7:42 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" 7:43 Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu."7:44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. 7:45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. 7:46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 7:47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." ~ Lukas 7: 44-47 ~

 

                Dari perumpamaan sederhana  yang Yesus sampaikan kepada Simon dan pertanyaanNya, Simon memberi jawab yang benar, bahwa orang yang dihapuskan dari hutang yang lebih besar akan menjadi orang yang lebih mengasihi orang yang telah menghapuskan hutangnya.

Camkanlah Saudaraku, semua orang adalah orang yang berdosa di hadapan Tuhan, dan pengampunan Tuhan kepada setiap orang sama takarannya (Lukas 23:34). Namun kesadaran akan keberdosaan diri dalam diri seseorang tidaklah sama. Ada orang yang “merasa” dosanya atau hutangnya hanya sedikit saja, tetapi ada orang yang merasa betapa besar dosanya, justru ketika diperhadapkan dengan anugerah Tuhan yang tak terukur itu. Orang yang merasa sedikit dosanya, pastilah merasa sedikit juga diampuni, dan karena itu sedikit juga berbuat kasih. Sebaliknya mereka yang merasa sangat besar hutang dosanya di hadapan Tuhan, akan merasa sangat besar juga pengampunan yang dianugerahkan Tuhan kepada dirinya. Orang-orang seperti inilah yang pada akhirnya akan bertindak atau berbuat sesuai dengan kasih karunia yang mereka terima dari Tuhan Yesus. Seperti perempuan yang terkenal sebagai orang berdosa itu.

 

                Apa yang dilakukan perempuan berdosa itu dibandingkan dengan apa yang dilakukan Simon, orang Farisi itu terhadap Yesus sungguh sangat berbeda. Seperti langit dan bumi. Perbedaan ini terjadi karena adanya perbedaan dalam kesadaran akan seberapa besar anugerah yang diterima oleh seseorang.

                Semakin besar rasa berdosa seseorang di hadapan Tuhan, semakin besar dirasakan anugerah Tuhan dalam dirinya. Sebaliknya semakin sedikit seseorang merasa berdosa di hadapan Tuhan (merasa sudah berbuat baik), semakin sedikit juga anugerah Tuhan di rasakan dalam hidupnya. Terlebih, mereka yang merasa dirinya benar, dia tidak akan merasakan atau bahkan tidak menikmati anugerah Tuhan sama sekali.

                Berbahagialah orang yang merasa sangat berdosa di hadapan Tuhan dan sekaligus mengharapkan hanya anugerahNya saja yang dapat me-nyelamatkan dan menolong dia untuk hidup dan berbuah kasih kepadaNya.

                Saya percaya di hadapan Tuhan dan hadiratNya hal pertama yang akan dirasakan oleh mereka yang mengalami anugerahNya adalah rasa keberdosaan yang dalam, “ketidaklayakan yang benar”, kerinduan untuk belajar hidup benar di hadapanNya dan hasrat untuk mentaati serta kerelaan untuk berkurban demi hidup menurut panggilanNya. Bandingkan dengan apa yang dialami oleh Petrus juga dalam Lukas 5:8.

                Wanita yang dianggap sebagai orang berdosa itu telah melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Simon. Bukan karena wanita itu lebih baik dari Simon, justru sebaliknya.  Namun kesadaran tentang keberdosaan dirinya di hadapan Tuhan itulah yang mendorong dia sanggup melakukan hal yang dipuji oleh Tuhan Yesus. Kesadaran akan keberdosaan diri dan kesadaran betapa besarnya anugerah Tuhan berpadu menjadi suatu dorongan yang kuat untuk bertindak melakukan sesuatu yang mendatangkan kemuliaan dan pujian bagi nama-Nya..

                Karena itu sangat beralasan dan menjadi sangat dimengerti ketika Paulus berkata :

Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. ~ 1 Korintus 15:10 ~

Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. ~ KPR 20:24 ~

                Paulus telah bekerja lebih keras dari semua rasul Kristus lainnya, bukan karena ia ingin “mencapai suatu prestasi” atau sebuah “success story” yang  mengundang decak kagum manusia dalam pelayanan, melainkan karena dorongan kasih karunia Allah dalam dirinya. Mengapa dorongan kasih karunia Allah itu sedemikian kuatnya dalam diri rasul Paulus? Saya yakin karena kesadaran akan betapa berdosanya dirinya dahulu dan hanya oleh karena anugerah Allah “dia boleh ada sebagaimana dia ada sekarang”. Kesadaran akan keberdosaan dirinya dan besarnya kasih karunia Tuhan mendorong dirinya berbuat banyak kasih.

                Bahkan Paulus tidak menghiraukan “nyawanya” sedikitpun, asalkan tugas pelayanan itu tuntas diselesaikannya. Sekali lagi, kesadaran akan keberdosaannya dan kasih karunia Tuhan yang rela mati bagi dirinya ketika dirinya masih berdosa mendorong dia untuk “mengabdikan seluruh keberadaannya dan  nyawanya” untuk menyenangkan hati Penebusnya.

                Semua itu secara spontan karena pekerjaan kasih karunia Allah. Mereka berbuat banyak kasih, tanpa diminta, tanpa didorong-dorong, tanpa diiming-imingi berkat, tanpa dijanjikan macam-macam. Bukan juga karena ingin sukses atau mencapai sesuatu demi pembuktian diri, melainkan karena dorongan kasih karunia Allah kepada dirinya sebagai orang yang “merasa sangat berdosa”. Berbahagialah orang yang merasa banyak dosanya di hadapan Tuhan!

(SiKY, 29 September 2015)

Artikel Terkait



Kembali ke atas

0 Komentar :

Komentar Saudara...


Nama :
Email :
Website :
Komentar :
 
 (Masukkan 6 kode diatas)


 



Pokok Doa

- Terjadinya pertobatan dari bangsa kita dimulai dari Gereja-Nya.

- Agar Jemaat dikuatkan untuk mengambil kesempatan memberitakan nama Yesus dengan cara apapun yang Tuhan berikan di tengah keadaan yang sukar ini.

- Keselamatan dan perlindungan Tuhan atas orang-orang percaya

- Pemerintah Pusat dan Daerah, Dokter dan para medis yang sedang berjuang menangani pasien akibat Virus Corona

semua agenda

Agenda

Info

  • PERTEMUAN KOMSEL kembali aktif di minggu pertama Januari 2020 (tgl 5 - 11 Jan). Komsel-komsel bisa mengadakan kebersamaan dan evaluasi pribadi dalam pertemuan perdana ini

  • Telah lahir putri kedua dari keluarga Bp Johani dan Ibu Roma yang di beri nama Rhea Ivana pada hari Senin, 12 Maret 2018 di RS Resti Mulya.

  • Doa korporat 24 Jam jemaat diadakan dalam 1 bulan sekali di akhir bulan pada hari jumat. Diharapkan seluruh jemaat mengambil bagian waktu doa 1 jam dengan mengisi form jadwal doa yang diberikan.

  • Bagi Fastor Komsel,  form laporan pertemuan komsel dapat memintanya kepada Bpk. Jerimia Saputra dan setelah di isi mohon memberikan laporannya kembali.

  • Telah berpulang ke rumah Bapa di Surga Jemaat Tuhan Bpk M Rumapea dan Bpk MR Manik.

Polling

Apakah Saudara/i sudah belajar memulai membangun ibadah bersama di dalam keluarga?
Sudah
Belum

Lihat

Kontak Kami

GPdI Jemaat Ujung Menteng
Jalan Kelurahan Ujung Menteng no.18 RT015/RW001, Cakung,
Jakarta timur. Indonesia.

Telp/Fax : (021) 4611850

E-mail :
admin@gpdiujungmenteng.com

Statistik Pengunjung

000000


Pengunjung hari ini :
Total pengunjung : 613698
Hits hari ini :
Total Hits :
Pengunjung Online: