Artikel

LOVE NO EXPECTATION

Jumat, 06 Desember 2019

Administrator

Renungan

Dibaca: 367 kali

Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai,  Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.  Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.  Yoh.13:1

Mulai pasal 13 Injil Yohanes ini masa penderitaan-Nya semakin mendekat, dan Ia telah tahu segala sesuatu yang akan terjadi mendahului penyaliban-Nya. Ia telah tahu bahwa salah satu murid-Nya akan menjual diri-Nya dengan harga 30 keping perak, harga seorang budak. Ia telah tahu bahwa Ia akan ditangkap dalam suatu momen yang paling ironis, melalui ciuman seorang murid yang berkhianat. Ia juga telah tahu bahwa murid-murid-Nya akan meninggalkan Dia. Puncaknya adalah penyangkalan Petrus, murid yang paling getol “membela” Dia.

                Namun yang mengherankan adalah, bahwa sekalipun Ia mendapatkan perlakuan yang sedemikian tidak adil dan sangat menyakitkan, Ia tetap mengasihi murid-murid-Nya. “Sekarang” atau pada saat itu, namun bukan hanya sekarang, melainkan sampai kepada kesudahannya!

                Inilah kasih Kristus yang luar biasa, kasih yang tidak berkesudahan, yang tidak ada padanannya di atas muka bumi ini. Cassie Carstens, seorang pelayan Tuhan dari Afrika Selatan mengungkapkan cara Tuhan mengasihi sebagai kasih tanpa ekspektasi atau love no expectation. Ini sebagai perbandingan dengan kasih manusia yang seringkali bukanlah kasih seperti yang Allah maksudkan untuk dipraktikkan satu dengan yang lain.

                Kasih manusia adalah kasih yang penuh dengan ekspektasi, kasih yang egois, kasih yang memberi untuk mendapatkan demi kebahagiaannya sendiri. Simaklah bagaimana caranya Allah mengasihi kita.

1. Satu pihak atau satu arah, dibalas ataupun tidak.

Dalam kaitan ayat yang telah kita baca tadi, Yesus mengasihi murid-murid-Nya dan tetap akan mengasihi mereka dari saat itu sampai kepada kesudahannya. Kasih itu tidak berkurang sedikitpun sekalipun murid-murid-Nya mengecewakan Dia. Sekalipun Yudas bersekongkol dengan para pemuka agama untuk membunuh diri-Nya. Sementara semua murid yang lain meninggalkan-Nya ketika Ia dalam situasi yang paling sukar dan menakutkan.

Kasih yang satu pihak atau satu arah ini tidak peduli apapun keadaan dari orang yang dikasihi-Nya. Entah dibalas dengan kasih atau dibalas dengan pengkhianatan kasih itu tetap tidak berubah. Ia tetap mengasihi!

 

2. Tanpa pengharapan bagi diri sendiri atau manipulasi.

Allah murni berkehendak mengasihi tanpa pengharapan untuk menyenangkan diri sendiri atau manipulasi. Artinya, kasih-Nya dinyatakan secara sengaja untuk kebaikan, keselamatan, dan keuntungan dari orang yang dikasihi-Nya.

Seorang suami terkadang sepertinya terlihat mengasihi istrinya. Dia bersikap ramah dan baik kepada istrinya karena “sebenarnya” dia ingin mendapat-kan hal yang sama dari istrinya. Praktik kasih menjadi sebuah transaksi. Dan kita semua tahu di dalam sebuah transaksi atau jual beli, baik si penjual atau si pembeli tidak mau rugi. Mereka berharap mendapatkan untung dari pihak yang lain. Praktik kasih Allah tidaklah demikian. Itu adalah kasih manusia, penuh ekspektasi. Kasih yang memberi untuk menerima. Jika ia tidak menerima maka ia berhenti mengasihi. 

Jadi di sini suami sesungguhnya bukan mengasihi istrinya tetapi lebih pada “meng-asihi ekspektasi atau pengharapannya” kepada sang istri. Ini berbeda sekali dengan kasih Allah. Kasih-Nya tidak mengandung manipulasi sama sekali. Kasih-Nya tulus dan murni untuk kebahagiaan kita sekalipun itu membuat-Nya menderita.

Banyak orang tua merasa bahwa mereka mengasihi anak-anak mereka tetapi sebenarnya mereka mengasihi pengharapan mereka terhadap anak-anak mereka. Ketika seorang ayah berkata kepada anaknya, ”Papa akan biayai semua keperluanmu untuk sekolah ataupun kuliah, karena mimpi ayah ada padamu. Tidak ada hal lain yang menjadi alasan untuk ayah hidup dan bekerja”.

Kata-kata seperti ini seringkali menjadi sebuah perwujudan dari seseorang yang ingin semua yang telah dikerjakan itu “berbalik menjadi sebuah kebahagiaan dan kebanggaan” bagi dirinya sendiri. Ketika sang anak tidak mencapai yang diharapkannya maka ia akan sedih dan kecewa karena pengharapannya yang tidak tercapai.

 

3. Selalu memberi pengampunan.

Manusia ada untuk sebuah hubungan karena Allah penciptanya adalah Allah yang hidup dalam sebuah hubungan. Sementara komponen terpenting dalam sebuah hubungan yang langgeng adalah “pengampunan”. Pengampunan bersifat memulih-kan. Tentu saja pengampunan yang sungguh dan sepenuh hati. Itulah yang Kristus kerjakan atas manusia. Ia selalu mengampuni. Salah satu klimaks pengam-punan yang pernah terjadi di dunia ini adalah ketika di kayu salib Ia memohonkan pengampunan kepada Bapa atas semua orang yang telah terlibat dalam drama penyaliban yang paling hitam dalam sejarah. Dalam kesakitan-Nya Ia tetap mengampuni. Inilah kasih Allah, kasih yang selalu mengampuni. Karena itu jika kasih dipraktikkan tanpa pengampunan maka sesungguhnya itu bukanlah kasih. 

 

4. Kasih yang mengorbankan diri

Kita mengenal pepatah, “Kasih anak sepanjang galah, tetapi kasih ibu sepanjang jalan.” Sampai kapanpun seorang ibu walaupun telah disakiti oleh anaknya, ia akan tetap mengasihi. Kasih ibu kepada anak menjadi gambaran yang indah namun “terbatas” tentang kasih yang mengorbankan diri. Siapa yang tidak mengenal pengorbanan ibu buat anaknya?

Tetapi kasih Allah lebih dari sekedar mengorbankan diri, tetapi kasih yang mengorbankan diri tanpa ekspektasi yang ditujukan terhadap orang yang hidupnya menyakiti hati-Nya. Jika ada sebuah ekspektasi maka itu bukan bagi diri-Nya sendiri, sebab Dia sendiri tidak membutuhkan apa-apa dari manusia. Dia memiliki segala sesuatu. Jadi, sekali lagi dan lagi, ekspektasi-Nya adalah keuntungan, kebaikan dan keselamatan pihak yang dikasihi-Nya. Dan sekalipun kita yang dikasihi tidak bertambah dan bertumbuh dalam hal yang mendatangkan kebaikan bagi diri kita sendiri dan orang lain, maka Ia akan tetap mengasihi dengan kasih yang penuh dengan pengorbanan diri.

 

5. Tetap mengasihi sekalipun kita “tidak berguna”

Saya masih sangat mengingat saat ketika papa harus menuntun mama yang sulit untuk berjalan sendiri, karena telapak kakinya sakit kalau menyentuh lantai. Hal itu sebetulnya selalu dilakukan papa ketika mama butuh ke kamar mandi, kembali ke kamar, mau ke meja makan atau sekedar jalan-jalan keluar sebagai aktivitas yang dilakukannya di luar tempat tidur. Papa melakukannya bertahun-tahun.

Suatu saat hal itu berlanjut dengan kondisi di mana dituntunpun mama sudah tidak bisa lagi berjalan. Semua praktis dilakukan ditempat tidur.

Saya juga masih mengingat suasana kamar dan tempat tidur mama di mana papa selalu setia tidur di sampingnya. Di atas kasur yang setiap hari harus dijemur.

Saya harus angkat jempol buat papa saya, karena sekalipun saya keluaran sekolah Alkitab, saya tidak berani membayangkan jika istri saya kondisinya seperti mama dan saya harus bertindak seperti papa. Sanggupkah saya? Secara kasat mata, mama diusia 80 tahun lebih dan dalam keadaan sakit, tampak “seperti orang yang tidak berguna” yang hanya menjadi beban. (Ah..mama engkau masih terus berarti dan bernilai sampai saat ini buat anak-anakmu).  Namun papa selalu menunjukkan kasih, kesabaran dan kesetiaannya dalam merawat mama.

Begitu jugalah keadaan kita di hadapan Allah. Secara rohani kita sering menjadi orang yang “tidak berguna” karena lumpuh dan penuh dengan penyakit dosa. Tetapi saya mau mengatakan, apapun keadaan kita, Ia tetap mengasihi kita, karena kasih-Nya tidak mempedulikan keadaan kita yang dikasihi-Nya.

 

6. Selalu memberi dengan sepenuh hati

Kasih Allah selalu memberi, memberi yang terbaik, memberi untuk kebahagiaan kita dan bukan untuk membahagiakan diri-Nya sendiri. Dan pemberian terbaiknya adalah Anak-Nya tunggal yang sangat dikasihi-Nya, sementara sang Anak memberikan diri-Nya untuk menjadi korban pendamaian bagi manusia yang berdosa, yang tidak pantas untuk menerima kasih yang ajaib ini.

Jika kita mempelajari dan memahami bagaimana caranya Allah mengasihi, maka hal pertama yang perlu kita lakukan adalah, mengakui bahwa kita tidak memiliki kasih yang seperti itu. Kedua, kita perlu belajar mengandalkan hanya kuasa Roh Kudus yang memampukan kita untuk mengalirkan kasih Allah yang telah dicurahkan-Nya ke dalam hati kita. (Baca Roma 5:5).

                Jika kita mau belajar mempraktikkan kasih Allah ini maka dalam hubungan suami istri tidak akan ada lagi pertanyaan, ”Bolehkah saya bercerai?” Atau saling adu argumentasi, bahwa kita cukup punya alasan untuk menceraikan pasangan kita! Pertanyaan pentingnya bukannya itu, tetapi jika suami istri saling mengasihi dengan kasih Allah, masihkah dia mau bercerai sekalipun ia tidak mendapatkan kebahagiaan dari pasangannya?

                Saudaraku semua, dengan pertolongan Roh Kudus kita dimampukan untuk mendemonstrasikan kasih tanpa ekspektasi ini mulai dari rumah kita.

(SiKY, Denpasar, 31 Oktober 19)

Artikel Terkait



Kembali ke atas

0 Komentar :

Komentar Saudara...


Nama :
Email :
Website :
Komentar :
 
 (Masukkan 6 kode diatas)


 



Pokok Doa

- Terjadinya pertobatan dari bangsa kita dimulai dari Gereja-Nya.

- Agar Jemaat dikuatkan untuk mengambil kesempatan memberitakan nama Yesus dengan cara apapun yang Tuhan berikan di tengah keadaan yang sukar ini.

- Keselamatan dan perlindungan Tuhan atas orang-orang percaya

- Pemerintah Pusat dan Daerah, Dokter dan para medis yang sedang berjuang menangani pasien akibat Virus Corona

semua agenda

Agenda

Info

  • PERTEMUAN KOMSEL kembali aktif di minggu pertama Januari 2020 (tgl 5 - 11 Jan). Komsel-komsel bisa mengadakan kebersamaan dan evaluasi pribadi dalam pertemuan perdana ini

  • Telah lahir putri kedua dari keluarga Bp Johani dan Ibu Roma yang di beri nama Rhea Ivana pada hari Senin, 12 Maret 2018 di RS Resti Mulya.

  • Doa korporat 24 Jam jemaat diadakan dalam 1 bulan sekali di akhir bulan pada hari jumat. Diharapkan seluruh jemaat mengambil bagian waktu doa 1 jam dengan mengisi form jadwal doa yang diberikan.

  • Bagi Fastor Komsel,  form laporan pertemuan komsel dapat memintanya kepada Bpk. Jerimia Saputra dan setelah di isi mohon memberikan laporannya kembali.

  • Telah berpulang ke rumah Bapa di Surga Jemaat Tuhan Bpk M Rumapea dan Bpk MR Manik.

Polling

Apakah Saudara/i sudah belajar memulai membangun ibadah bersama di dalam keluarga?
Sudah
Belum

Lihat

Kontak Kami

GPdI Jemaat Ujung Menteng
Jalan Kelurahan Ujung Menteng no.18 RT015/RW001, Cakung,
Jakarta timur. Indonesia.

Telp/Fax : (021) 4611850

E-mail :
admin@gpdiujungmenteng.com

Statistik Pengunjung

000000


Pengunjung hari ini :
Total pengunjung : 357749
Hits hari ini :
Total Hits :
Pengunjung Online: