Artikel

Kingdom Parenting (Pengasuhan Sebagai Tugas Ilahi)

Minggu, 03 Maret 2019

haryadi

Refleksi

Dibaca: 129 kali

Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya. Kejadian 5:3

A. TUJUAN DASAR PENGASUHAN (Parenting) Allah menciptakan manusia pertama, Adam, yang serupa dan segambar dengan-Nya. Kemudian Adam memiliki anak yang serupa dan segambar dengan dirinya, yang diberi nama Set. Dengan demikian, Allah pun ingin setelah manusia melahirkan generasi berikutnya, manusia dapat mendidik anak-anaknya agar menjadi segambar dan serupa diri mereka, yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Ini merupakan tugas dari Parenting, memultiplikasi gambar Allah dalam diri anak-anak kita.

TIGA TUJUAN PENGASUHAN MEMPRODUKSI NATUR (PEMBAWAAN) DARI ORANGTUANYA Orangtua harus terlebih dahulu memiliki natur atau pembawaan Allah, baru kemudian mendidik anak-anaknya untuk memiliki natur Allah. Orangtua juga memiliki Roh untuk bisa berhubungan dengan Allah dan mengakses surga. Dengan demikian, sebagai orangtua kita pun harus mendidik anak-anak kita untuk hidup dalam roh.

Berkenaan dengan membangun natur Allah dalam hidup anak-anak kita, ada tiga hal yang patut orangtua lakukan, yakni : Pertama, menolong anak-anak untuk terbiasa berdoa kepada Allah.

Jika orangtua berdoa, pastikan anak-anak juga berdoa. Ajarkan anak membaca Firman Tuhan setiap hari. Firman Tuhan secara gamblang berkata bahwa Firman itu adalah Allah, karena itu Firman harus nyata dalam hidup kita.

Karena itu, bila orangtua menyuruh anak-anak untuk membaca Firman Tuhan setiap hari, orangtua wajib menjadi orang pertama yang melakukannya. Setelah itu. ajarlah anak-anak kita bersekutu dengan Tuhan agar natur Allah bertumbuh dalarn diri mereka.

Seorang anak yang sejak kecil telah dididik untuk ikut mezbah keluarga, bangun pagi dan baca Alkitab setiap hari, setelah dewasa akan lebih mudah memiliki kesadaran diri untuk mengerjakan hal serupa dalam kesehariannya.

Tetapi pertanyaannya, bagaimana mungkin anak-anak kita belajar untuk mezbah keluarga, bangun pagi, baca Alkitab jika orangtua tidak pernah melakukan hal-hal tersebut di rumah? Bagaimana mungkin orangtua meng-encourage anak-anak mereka jika diri sendiri tidak menjadi teladan? Tidak boleh ada dualisme antara gereja dan rumah. Anak-anak harus mendapat gambaran bahwa; "Rumah adalah gereja, Gereja adalah rumah." Maksudnya apa? Anak-anak harus merasakan rumah seperti gereja, dan sebaliknya, gereja seperti rumah (keluarga). Meski demikian, tanggung jawab mendidik anak utamanya ada di pundak keluarga, sementara gereja lebih berfungsi sebagai sahabat atau partner orangtua dalam mendidik anak.

itu artinya, jika di gereja anak-anak diajarkan agar rajin membaca Alkitab dan mengikuti mezbah keluarga di rumah, sementara di rumah hal-hal tersebut tidak dilakukan, maka akan timbul konflik dalam diri anak-anak. Jangan ada standar ganda. Ketika anak-anak di gereja diajarkan nilai-nilai yang baik seperti rajin dan disiplin, di rumah justru tidak ada penerapan dalam hal itu.

Kedua, menurunkan karakter orangtua kepada anak-anaknya. Pada waktu menciptakan manusia, Tuhan menurunkan karakter Ilahi dalam diri manusia. Demikian halnya dalam Parenting, orangtua harus menurunkan karakter Ilahi kepada anak-anaknya. Itu sebabnya ada istilah "Iike father like soon /like father like daughter". Jadi tidak aneh jika orang melihat anak kita, kemudian mereka berujar, "Melihat anakmu. saya seperti melihat dirimu." Ini bisa diinterpretasikan bahwa sebagai orangtua berhasil mendidik anaknya. Karakter bisa mengandung pengertian siapa kita saat berada dalam tekanan, sebab tekanan akan memperlihatkan karakter asli seseorang. Karakter juga bisa berarti respons kita terhadap sesuatu. Bila kita memberi respons yang benar, misalnya ketika terjadi masa sukar, itu menandakan karakter kita telah terbentuk.

Karena itu, didiklah anak-anak agar tidak manja sekalipun mungkin fasilitas di rumah serba tersedia. Meskipun tersedia mobil dan supir di rumah, sesekali biarkan anak untuk terbiasa naik angkutan umum. Tujuannya, jika suatu saat tak ada yang mengantar, anak bisa mandiri. Ini juga akan menumbuhkan fighting spirit dalam diri anak sedari kecil.

Ketiga, mereproduksi perilaku (behaviour) pada anak. Ini penting, agar anak bisa berpikir seperti Yesus, sebab pola dari Parenting adalah Allah, Bapa dan Yesus. Kita mesti tanamkan pada diri anak-anak bahwa mereka patut berpikir, berkata-kata dan berperilaku seperti Yesus, yakni selaras firman-Nya. Contohnya dalam hal kekudusan. Ajarkan anak Anda selama masih berpacaran alias belum menikah, tidak boleh menginap berdua dengan teman lelakinya, atau jalan-jalan berdua keluar kota atau keluar negeri tanpa supervisi orangtua.

Ini membuat anak punya radar terhadap larangan-larangan tertentu yang diberikan oleh orangtua. Pada akhirnya, anak pun akan mengerti, setelah melihat peristiwa yang menimpa teman-temannya yang mendapat kebebasan penuh dari orangtuanya.

Fakta ironis, tidak sedikit anak yang telah diajarkan batas-batas tertentu dalam bergaul di gereja, tetapi mereka justru mendapat kelonggaran dari orangtua. Pertentangan ini membuat anak-anak bingung dan akhirnya terjerumus dalam pergaulan buruk.

B. MODEL PENGASUHAN (PARENTING MODEL) Parenting model yang sempurna adalah hubungan Yesus dengan Bapa-Nya. Mengapa dikatakan sempurna? Dalam Yohanes 5:19 Yesus menegaskan bahwa la mengerjakan persis apa yang Bapa lakukan. Lalu di Yohanes 14:9, Yesus berkata barangsiapa yang melihat Anak, yakni Yesus, ia telah melihat Bapa.

Dengan kata lain, Yesus memberi garansi bahwa dengan melihat diri-Nya sama saja kita telah melihat Bapa. Ini dipertegas dalam Kolose 1:15 yang menyatakan bahwa Yesus adalah gambaran Allah yang tidak kelihatan.

Jadi bisa ditarik kesimpulan, Parenting (pengasuhan) yang orangtua lakukan sebenarnya merupakan Kingdom Parenting, bukan fllosofi dari para pakar psikolog. Intinya kita harus memandang Parenting sebagai tugas Ilahi bukan sekadar mendidik.

Seperti Bapa telah memproyeksikan apa yang ada dalam diri Yesus, demikianlah para orangtua harus menolong anak-anaknya bertumbuh seperti Yesus. Memang, tidak semua anak mampu mencapai standar orangtua. Contoh sederhana, standar kebersihan. Orangtua bisa saja sangat bersih tetapi anak belum tentu mampu sebersih orangtuanya. Kemudian perihal berdoa, orangtua bisa berdoa selama berjam-jam, sebaliknya anak mungkin hanya mampu sejam saja. Meski demikian, anak harus terus didorong untuk terus mencapai harapan orangtua, yang sesuai keinginan Tuhan. Berkaitan dengan itu, ada tiga perkara penting yang harus diperhatikan orangtua dalam Parenting, yakni :

- ORANGTUA ADALAH ORANG YANG PALING BERTANGGUNG JAWAB MENDIDIK ANAK. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. Amsal 22:6 Inilah prinsip Parenting yang baik. Tuhan menjamin bila kita mendidik anak kita sejak masa mudanya, setelah dewasa anak kita akan terus berada di jalan Tuhan sampai masa tuanya.

Disadari atau tidak, cara hidup orangtua akan menurun kepada anaknya. Teladan lebih kuat berbicara terhadap anak dibanding kata-kata. Menjadi warning bagi para orangtua, bila orangtua lalai dalam mendidik dan memuridkan anak-anak, dunialah yang nanti akan mengambil alih seperti televisi, media sosial, lingkungan, majalah, film dan lainnya. Sangatlah mengerikan jika dunia yang memegang hidup anak-anak kita! - ORANGTUA HARUS SADAR BAHWA KITA DAN ANAK KITA MEWARISI DOSA KETURUNAN YANG DIWARISKAN ADAM (ROMA 6:23) "Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oteh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang." Roma 5:14

Berdasarkan ayat ini, sadarilah bahwa orangtua dan anak sama-sama mewarisi dosa turunan. Ini bisa kita lihat, tanpa diajari orangtua pun anak bisa berbohong. Sebab itu. kita harus mulai mengajarkan anak-anak kita untuk mengikis semua dosa warisan. Contohnya, kalau anak melanggar jangan enggan untuk memberi teguran. Seperti yang diingatkan di Amsal 22:15, ôKebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya".

Dalam mendidik anak, ada dua instrumen yang bisa dipergunakan orangtua yakni didikan dan tongkat. Tongkat diperlukan agar anak tidak merasa sakit hati ketika orangtua menghajar karena tidak menggunakan tangan sendiri. FOKUS UTAMA DALAM PARENTING ADALAH MENURUNKAN NATURE. KARAKTER DAN PERILAKU ORANGTUA.

Orangtua harus mengalami pemulihan Iebih dulu, sebelum memulihkan anak-anak. Seperti dikatakan di awal, keluarga merupakan pusat pendidikan dan gereja adalah sahabat keluarga untuk mendidik anak-anak agar generasi ini siap menghadapi tantangan berat di zamannya. (Pdt. Dr. Ir. Yonathan Wiryohadi, gembala senior di GBI WTC, Tangerang)

Artikel Terkait



Kembali ke atas

0 Komentar :

Komentar Saudara...


Nama :
Email :
Website :
Komentar :
 
 (Masukkan 6 kode diatas)


 

Pokok Doa

- Berdoa untuk fokus di tahun ini : "Keluarga dan Misi Dunia". Doakan supaya terjadi terobosan di hati setiap jemaat khususnya dalam hal menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang. Berdoa untuk keluarga-keluarga terus membangun pemuridan dan ibadah sekeluarga dengan konsisten.

- Doakan pelayanan sekolah TK-SD-SMP-CBSOM. Berdoa untuk pelaksanaan tahun ajaran 2019-2020.

- Doakan seluruh guru-guru dan siswa-siswa supaya selama mereka belajar mereka diberi hikmat dan akal budi yang dari Tuhan.

- Doakan supaya selama proses pembelajaran selalu melibatkan Tuhan di dalamnya.

- Doakan pelaksanaan pembangunan gedung CBSOM, doakan kontraktor dan tukang-tukang supaya diberi kesehatan dan keselamatan selama bekerja.

semua agenda

Agenda

26 Juni 2019
PEMURIDAN WANITA
16 Juni 2019
PEMURIDAN PASUTRI

Info

  • PERTEMUAN KOMSEL kembali aktif di minggu pertama Januari 2019 (6 - 12 Jan). Komsel-komsel bisa mengadakan kebersamaan dan evaluasi pribadi dalam pertemuan perdana ini

  • Telah lahir putri kedua dari keluarga Bp Johani dan Ibu Roma yang di beri nama Rhea Ivana pada hari Senin, 12 Maret 2018 di RS Resti Mulya.

  • Doa korporat 24 Jam jemaat diadakan dalam 1 bulan sekali di akhir bulan pada hari jumat. Diharapkan seluruh jemaat mengambil bagian waktu doa 1 jam dengan mengisi form jadwal doa yang diberikan.

  • Bagi Fastor Komsel,  form laporan pertemuan komsel dapat memintanya kepada Bpk. Jerimia Saputra dan setelah di isi mohon memberikan laporannya kembali.

  • Telah berpulang ke rumah Bapa di Surga Jemaat Tuhan Bpk M Rumapea dan Bpk MR Manik.

Polling

Apakah Saudara/i sudah belajar memulai membangun ibadah bersama di dalam keluarga?
Sudah
Belum

Lihat

Kontak Kami

GPdI Jemaat Ujung Menteng
Jalan Kelurahan Ujung Menteng no.18 RT015/RW001, Cakung,
Jakarta timur. Indonesia.

Telp/Fax : (021) 4611850

E-mail :
admin@gpdiujungmenteng.com

Statistik Pengunjung

174441


Pengunjung hari ini : 146
Total pengunjung : 70041
Hits hari ini : 192
Total Hits : 174441
Pengunjung Online: 3